Lompat ke isi utama

Berita

Mahasiswa Sejarah UNESA Kunjungi Bawaslu Surabaya, Bahas Sejarah dan Dinamika Pengawasan Pemilu dan Pilkada Kota Surabaya

Kunjungan UNESA

Surabaya - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surabaya terima kunjungan akademik dari mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Rabu, 25 Juni 2025. Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diajak mendalami sejarah terbentuknya Bawaslu sekaligus memahami tugas, wewenang, serta dinamika pengawasan tahapan Pemilu dan Pilkada khususnya yang terjadi di Kota Surabaya.

Hadir dalam kesempatan tersebut tiga Koordinator Divisi Bawaslu Surabaya, yakni Teguh Suasono Widodo (Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia dan Organisasi), Eko Rinda (Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa dan Hukum), serta Dimas Anggara (Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran).

Dalam suasana diskusi yang berlangsung hangat, Bawaslu Surabaya memaparkan beberapa poin penting, di antaranya perbedaan peran Bawaslu dalam pelaksanaan Pemilu dan Pilkada, perbedaan metode pelaksanaan pengawasan, tahapan pengawasan, hingga perbedaan permasalahan dan dinamika politik yang kerap muncul pada dua jenis pesta demokrasi tersebut.

Dalam arahannya, Teguh Suasono Widodo menekankan pentingnya regenerasi pengawas pemilu yang berintegritas. 

“Mahasiswa sejarah memiliki kepekaan terhadap peristiwa masa lalu. Itu modal penting agar ke depan lahir generasi pengawas pemilu yang paham konteks sejarah pengawasan dan mampu menjaga demokrasi,” jelas Teguh.

Sementara itu, Eko Rinda menjelaskan tentang penanganan sengketa dalam Pemilu dan Pilkada yang memiliki karakteristik berbeda. 

“Penyelesaian sengketa di Pilkada seringkali lebih kompleks karena kedekatan aktor politik dengan pemilih. Mahasiswa harus paham bagaimana Bawaslu menengahi sengketa secara adil dan sesuai regulasi,” terangnya.

Sedangkan Dimas Anggara menekankan aspek penanganan pelanggaran yang beragam, mulai dari pelanggaran administratif, pidana, hingga etik. 

Tiap tahapan punya potensi pelanggaran berbeda. Misalnya dalam Pilkada, praktik politik uang bisa lebih masif karena kontestasi lebih sempit. Inilah pentingnya metode pengawasan partisipatif, ujar Dimas.

Para mahasiswa pun antusias bertanya dan berdiskusi terkait praktik pengawasan di lapangan, peran partisipasi masyarakat, hingga tantangan Bawaslu Surabaya dalam mewujudkan pemilu yang demokratis, bersih, dan bermartabat.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa tentang praktik pengawasan pemilu di Indonesia sekaligus memupuk kesadaran akan pentingnya partisipasi aktif generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi.