Analogi Wasit dan Suporter Kritis: Cara Kreatif Bawaslu Kota Surabaya Jaga Iklim Demokrasi Bersama Aktivis Mahasiswa
|
Surabaya - Bawaslu Kota Surabaya menggelar kegiatan diskusi interaktif sekaligus nonton bareng (nobar) siaran langsung pertandingan Piala Dunia pada Rabu (15/7/2026) dinihari. Bertempat di kantor Bawaslu Kota Surabaya, agenda strategis ini dihadiri oleh organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Kota Surabaya serta para alumni Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) dari periode pemilu sebelumnya. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Bawaslu Kota Surabaya, Novli Bernado Thyssen, yang menekankan pentingnya membangun kesadaran kritis pemuda melalui media-media yang populer dan dekat dengan keseharian mereka, salah satunya adalah sepak bola.
Memasuki sesi inti, diskusi yang dipandu secara dinamis oleh Anggota Bawaslu Kota Surabaya, Dimas Anggara ini menghadirkan Joaquim Rohi, seorang pengamat politik sekaligus penggemar sepak bola yang menetap di Rusia, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Joaquim menjelaskan bahwa sepak bola modern telah lama bergeser dari sekadar olahraga di lapangan hijau menjadi instrumen proyeksi kekuasaan, diplomasi, dan cermin realitas sosial-politik global. Ia menyoroti fenomena sportwashing yaitu upaya negara-negara tertentu menggunakan kemegahan turnamen FIFA untuk membersihkan citra buruk atau mengalihkan perhatian dari isu pelanggaran HAM serta bagaimana kedekatan FIFA dengan kekuatan ekonomi baru mencerminkan pergeseran peta geopolitik dunia saat ini.
Di tingkat domestik eropa, dinamika politik tersebut tercermin sangat kuat dalam komposisi skuad tim nasional seperti Prancis yang dimotori Kylian Mbappé dan Spanyol dengan bintang mudanya, Lamine Yamal. Menurut Joaquim, keberagaman multikultural dalam tim tersebut kerap dipolitisasi oleh kelompok sayap kanan maupun kiri di negara masing-masing, membuktikan bahwa sepak bola adalah perpanjangan arena dari perdebatan imigrasi dan identitas nasional. Sementara di panggung global, ketegangan politik luar negeri seperti konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat yang menjadi salah satu tuan rumah utama Piala Dunia 2026 turut membawa imbas yang nyata ke dalam turnamen, baik lewat aksi diplomasi simbolis di lapangan maupun urusan birokrasi visa dan keamanan di luar lapangan.
Diskusi kemudian ditarik ke dalam konteks lokal Indonesia, mengupas kontradiksi antara melimpahnya bakat lokal serta masifnya proyek naturalisasi pemain keturunan dengan kenyataan bahwa Indonesia masih kesulitan menembus panggung Piala Dunia. Forum sepakat bahwa masalah mendasar ini bukanlah perkara teknis taktik semata, melainkan karut-marut tata kelola politik olahraga yang belum sehat, minimnya infrastruktur pembinaan usia dini, serta adanya intervensi politik praktis di tubuh federasi. Kondisi ini diperparah oleh fanatisme suporter domestik yang kerap kali menyerupai perilaku pendukung politik praktis: emosional, agresif, dan mudah terpolarisasi.
Melihat fenomena tersebut, perwakilan mahasiswa Cipayung yang hadir merumuskan pentingnya batasan yang jelas antara loyalitas yang sehat yang mendukung dengan rasionalitas serta sportivitas dan fanatisme buta yang destruktif. Mahasiswa kemudian menarik analogi menarik bahwa pemilu atau pilkada sejatinya adalah sebuah turnamen politik besar yang sangat membutuhkan wasit yang adil, tegas, dan independen seperti Bawaslu Kota Surabaya demi menjaga jalannya aturan main. Namun, kehadiran wasit saja dinilai tidak cukup; masyarakat, khususnya elemen mahasiswa, dituntut untuk mengambil peran aktif sebagai "suporter kritis" yang tidak sekadar bersorak, tetapi juga berani mengawasi jalannya demokrasi dan menyuarakan kecurangan tanpa terjebak dalam polarisasi.
Setelah sesi diskusi yang berlangsung hangat dan penuh dialektika tersebut selesai, atmosfer ruangan berubah menjadi penuh keseruan saat seluruh peserta beralih ke layar lebar untuk mengikuti agenda utama berikutnya: nonton bareng pertandingan sengit semifinal Piala Dunia antara Prancis melawan Spanyol. Melalui kolaborasi diskusi ilmiah dan nobar ini, Bawaslu Kota Surabaya berhasil membuktikan bahwa pendidikan politik dan pengawasan partisipatif dapat dikemas dengan cara yang santai, edukatif, sekaligus merekatkan solidaritas antar-elemen pemuda di Kota Pahlawan.
Penulis dan Foto: Debbie
Editor: Suib