Wujudkan Kinerja Optimal, Kasubbag Administrasi Ajak Jajaran Kesekretariatan Bawaslu Kota Surabaya Tinggalkan Ego Sektoral
|
Surabaya - Bawaslu Kota Surabaya kembali menggelar kegiatan apel pagi rutin pada Senin (26/10/2026) di halaman kantor Bawaslu Kota Surabaya. Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala Sekretariat, seluruh Kepala Subbagian, staf sekretariat, serta para mahasiswa magang. Apel pekanan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus menyelaraskan persepsi kerja di lingkungan kesekretariatan.
Bertindak sebagai pembina apel pada kesempatan kali ini adalah Kepala Subbagian Administrasi Bawaslu Kota Surabaya, Tangguh Gradhianta. Dalam amanatnya, Tangguh menyoroti pentingnya merevitalisasi pola pikir (mindset) Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menegaskan bahwa penguatan Core Values BerAKHLAK dan komitmen terhadap meritokrasi harus terwujud secara nyata dalam tindakan dan dinamika kerja sehari-hari.
Salah satu poin utama yang ditegaskan oleh Tangguh adalah perlunya pergeseran cara pandang dari mentalitas lama yang cenderung ingin dilayani menjadi mentalitas yang proaktif melayani. ASN Bawaslu Kota Surabaya dituntut untuk menempatkan diri sebagai pelayan publik yang ramah, responsif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat. Menurutnya, esensi birokrasi modern adalah memangkas kerumitan (red tape), bukan justru menciptakan hambatan baru.
Selain pergeseran budaya melayani, Tangguh juga mengajak seluruh jajaran untuk mengubah orientasi kerja dari sekadar pengguguran kewajiban administratif menjadi fokus pada hasil dan dampak nyata (outcome). Keberhasilan organisasi tidak lagi hanya diukur dari seberapa tebal laporan pertanggungjawaban atau tingkat penyerapan anggaran, melainkan dari sejauh mana solusi yang dihadirkan mampu menyelesaikan permasalahan secara efektif dan efisien.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika tata kelola pemilu, jajaran kesekretariatan Bawaslu Kota Surabaya diimbau untuk berani keluar dari zona nyaman rutinitas. Pendekatan business as usual harus ditinggalkan dan digantikan dengan growth mindset yang adaptif serta inovatif. Penguasaan literasi digital dan kreativitas dalam mencari jalan keluar atas hambatan kerja menjadi kunci utama agar organisasi tidak tertinggal.
Secara khusus, Tangguh memberikan penekanan mendalam pada upaya penghapusan ego sektoral yang kerap menjadi dinding pembatas antarunit kerja. Dalam ekosistem birokrasi, kecenderungan berjalan sendiri-sendiri berdasarkan batasan tugas pokok dan fungsi kaku sering kali memperlambat penanganan tugas-tugas strategis. Sekat-sekat birokrasi seperti ini dipandang dapat memicu tumpang tindih serta penurunan efektivitas organisasi.
Guna mengatasi hal tersebut, ia mendorong penguatan budaya kerja kolaboratif yang terintegrasi di seluruh lini sekretariat. Proses koordinasi antar-subbagian tidak boleh sekadar dijadikan formalitas rapat berkala, melainkan sebagai wadah strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan langkah taktis, serta berbagi sumber daya. Pembentukan tim lintas fungsi (cross-functional team) menjadi salah satu solusi agar setiap kebijakan dan program kerja teramu secara komprehensif.
Transformasi budaya kerja menuju kolaborasi terintegrasi ini dinilai sangat krusial agar Bawaslu Kota Surabaya mampu menghadirkan pelayanan lembaga yang lincah, transparan, dan tepat sasaran. Ketika setiap unit mampu melepaskan ego kelembagaan dan menyadari bahwa keberhasilan organisasi merupakan pencapaian bersama, sinergi yang terbangun akan memberikan daya ungkit tinggi terhadap kinerja kelembagaan secara keseluruhan.
Mengakhiri amanatnya, Tangguh berpesan agar seluruh jajaran pimpinan, staf, hingga mahasiswa magang dapat menginternalisasi nilai-nilai kolaborasi ini dalam setiap pelaksanaan tugas harian. Dengan semangat kebersamaan dan cara pandang yang lebih terbuka, Bawaslu Kota Surabaya optimistis dapat terus meningkatkan kualitas tata kelola administrasi dan pengawasan pemilu demi memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan demokrasi.
Penulis dan Foto: Debbie
Editor: Suib