Lompat ke isi utama

Berita

Rapat Rutin Mingguan: Bawaslu Kota Surabaya Prioritaskan Penguatan Fungsi Early Warning System

#

Rapat internal Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya pada Senin (08/06/2026)

Surabaya - Bawaslu Kota Surabaya menggelar Rapat Rutin Mingguan pada Senin (08/06/2026). Kegiatan ini dilaksanakan segera setelah pelaksanaan apel pagi, bertempat di Ruang Rapat Kantor Bawaslu Kota Surabaya. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Ketua Bawaslu Kota Surabaya, Novli Bernado Thyssen, didampingi oleh Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya, Trimuda Ancas Wicaksono, serta dihadiri oleh seluruh Kepala Subbagian dan Staf.

Dalam pembukaannya, Novli Bernado Thyssen menegaskan bahwa bagi Bawaslu, berakhirnya sebuah kontestasi politik bukan berarti berhentinya fungsi pengawasan. Pada masa non-tahapan pemilu saat ini, penguatan Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini justru mengalami pergeseran fokus yang sangat strategis. Alih-alih mengawasi jalannya pemungutan suara, Bawaslu Kota Surabaya memanfaatkan masa jeda ini untuk membangun fondasi deteksi dini yang kokoh, mengidentifikasi potensi kerawanan laten, dan mempersiapkan instrumen pencegahan agar lembaga tidak gagap saat memasuki tahapan pemilu berikutnya.

Sejalan dengan arahan pimpinan, pilar utama penguatan EWS di masa non-tahapan ini akan bertumpu pada pemutakhiran dan evaluasi mendalam terhadap Indeks Kerawanan Pemilu (IKP). Bawaslu Kota Surabaya berkomitmen melakukan bedah kasus secara menyeluruh terhadap dugaan dan tren pelanggaran yang terjadi pada pemilu sebelumnya guna memetakan akar masalah di setiap wilayah secara mikro. Melalui analisis berbasis data historis yang valid ini, parameter EWS diperbarui guna mendeteksi tren kerawanan jangka panjang.

Rapat tersebut juga mengidentifikasi sejumlah klaster kerawanan krusial yang membutuhkan perhatian khusus sejak dini. Pembaruan parameter dalam sistem peringatan dini ini diarahkan untuk mendeteksi potensi konflik horizontal di tengah masyarakat, memetakan daerah rawan netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga melacak wilayah di Kota Pahlawan yang memiliki tingkat kerentanan politik uang tinggi. Langkah pemetaan ini dinilai komprehensif untuk memotong rantai pelanggaran sebelum tahapan pemilu kembali bergulir.

Meskipun tensi politik di tengah masyarakat terpantau mereda, ruang siber dipastikan tetap menjadi fokus pengawasan dini yang sangat krusial bagi Bawaslu di luar masa pemilu. Penguatan fungsi EWS ini diwujudkan melalui pemeliharaan infrastruktur digital internal serta optimalisasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memantau dinamika media sosial. Upaya ini dinilai vital guna mendeteksi dini pergerakan akun-akun bayaran (buzzers) atau pembuatan situs hoaks yang mulai mencicil narasi polarisasi SARA, pembunuhan karakter tokoh potensial, serta delegitimasi penyelenggara pemilu jauh-jauh hari sebelum tahapan resmi dimulai.

Dari sisi birokrasi dan kelembagaan, Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya, Trimuda Ancas Wicaksono, menambahkan bahwa masa non-tahapan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi data lintas instansi pemerintah. Hubungan koordinasi dan komunikasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Surabaya, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Surabaya, serta jajaran terkait di lingkungan Pemerintah Kota tidak boleh dikendorkan, melainkan wajib dipererat.

Tidak hanya menyasar sektor formal, di sisi masyarakat, Bawaslu Kota Surabaya juga terus menguatkan EWS melalui investasi jangka panjang pada program pengawasan partisipatif. Karena saat ini tidak ada urgensi pelaporan pelanggaran kampanye, fokus perhatian dialihkan pada penguatan edukasi di kampung-kampung pengawasan, sekolah kader pengawas, dan komunitas digital lokal. Melalui program ini, warga dibekali kemampuan literasi digital dan pemahaman regulasi agar mereka secara mandiri dapat menjadi "alarm" pertama yang berbunyi jika menemukan adanya riak-riak pelanggaran atau manipulasi politik di lingkungan sekitarnya.

Sebagai penutup rapat, Novli Bernado Thyssen menggarisbawahi bahwa kesiapan Early Warning System di masa non-tahapan ini pada akhirnya akan diuji dari seberapa efektif Bawaslu merespons sinyal-sinyal kerawanan yang muncul lebih awal. Hasil deteksi dini dari sistem ini nantinya akan langsung ditindaklanjuti dengan tindakan preventif jangka panjang, seperti pengiriman surat rekomendasi perbaikan sistem tata kelola kepada instansi terkait hingga sosialisasi pencegahan yang masif. Melalui penguatan EWS yang konsisten di masa tenang ini, Bawaslu Kota Surabaya memastikan diri selalu selangkah lebih maju dalam memitigasi risiko demi menjamin kualitas demokrasi yang lebih baik di masa depan.

Penulis dan Foto: Debbie

Editor: Suib