Lompat ke isi utama

Berita

Momentum Hardiknas, Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya Ajak Pegawai Terapkan Budaya Lifelong Learning

#

Apel pagi di lingkungan Bawaslu Kota Surabaya pada Senin (04/05/2026)

Surabaya - Pada Senin (04/05/2026), berlangsung kegiatan apel pagi di halaman kantor Bawaslu Kota Surabaya. Kegiatan ini dihadiri oleh para staf Bawaslu Kota Surabaya dan dipimpin langsung oleh Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya, Arif Priyono. Dalam arahannya, Arif menegaskan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar seremoni rutin untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara. Lebih dari itu, momentum ini dijadikan sebagai pengingat pentingnya filosofi belajar sepanjang hayat bagi seluruh aparatur negara.

Arif Priyono menekankan bahwa di tengah percepatan transformasi digital saat ini, kantor bukan lagi satu-satunya tempat bekerja. Ia menyampaikan bahwa tumpukan berkas fisik dan dokumen manual tidak lagi merepresentasikan produktivitas. Sebaliknya, pegawai diharapkan mampu mengadopsi semangat "Merdeka Belajar", yaitu keberanian untuk menanggalkan pola pikir lama yang kaku dan bertransformasi menjadi pribadi yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi digital. Hal ini menjadi kunci utama agar birokrasi mampu bergerak lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Lebih jauh, Arif menegaskan bahwa transformasi digital dalam birokrasi bukan hanya soal pengadaan perangkat keras atau peluncuran aplikasi baru. Ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah evolusi kesadaran manusia di balik teknologi tersebut. Ia menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) aparatur menjadi hal yang mutlak, agar investasi dalam teknologi tidak sia-sia. Menurutnya, tantangan terbesar dalam proses ini bukanlah rumitnya kode pemrograman, melainkan resistensi terhadap perubahan perilaku yang selama ini melekat.

Dalam konteks ini, Arif mengingatkan bahwa aparatur yang unggul di era digital adalah mereka yang tidak hanya kompeten secara administratif, tetapi juga memiliki literasi data dan kecerdasan digital yang mumpuni. Dengan kemampuan ini, pegawai mampu melihat teknologi sebagai jembatan untuk mempermudah pelayanan publik dan menghapus sekat birokrasi yang selama ini dianggap berbelit-belit. Ia menegaskan bahwa inovasi ini akan menciptakan pelayanan yang lebih transparan, personal, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Momentum Hardiknas dijadikan sebagai titik tolak untuk mengubah paradigma pengembangan SDM di lingkungan Bawaslu Kota Surabaya. Arif mendorong agar peningkatan kapasitas tidak lagi bersifat top-down atau bergantung pada pelatihan formal semata. Ia mengajak setiap pegawai untuk berdaulat atas pengembangan dirinya sendiri dengan memanfaatkan ekosistem digital secara mandiri. Pegawai diharapkan mampu belajar secara otonom, berkolaborasi lintas sektor, dan terus berinovasi tanpa henti.

Selain itu, Arif menyatakan bahwa budaya belajar ini harus menjadi bagian dari budaya kerja yang melekat di seluruh lini organisasi. Ia percaya bahwa dengan mengintegrasikan semangat pendidikan ke dalam budaya kerja, birokrasi tidak hanya akan terdigitalisasi, tetapi juga mampu membangun fondasi pemerintahan yang lebih cerdas. Dengan demikian, pelayanan publik akan semakin efektif dan efisien, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai penutup, Arif Priyono mengajak seluruh pegawai Bawaslu Kota Surabaya untuk menjadikan momentum Hardiknas ini sebagai titik awal perubahan besar. Ia menegaskan bahwa setiap tantangan pekerjaan harus dilihat sebagai "ruang kelas" baru yang penuh peluang belajar dan berinovasi. Dengan semangat belajar sepanjang hayat dan budaya digital yang kuat, diharapkan birokrasi di Kota Surabaya mampu bertransformasi menjadi pemerintahan yang lebih modern, cerdas, dan melayani demi kemajuan bangsa Indonesia.

Penulis dan Foto: Debbie

Editor: Suib