Lompat ke isi utama

Berita

Merawat Nilai Pengabdian: Menumbuhkan Sikap Bersyukur di Tengah Dinamika Kerja Publik

#

Kegiatan pembinaan mental bagi seluruh sekretariat Bawaslu Kota Surabaya yang dilaksanakan pada Rabu (1/7/2026)

Surabaya - Bawaslu Kota Surabaya menggelar kegiatan pembinaan mental bagi seluruh jajaran sekretariat, Rabu (1/7/2026). Agenda yang berlangsung di Ruang Rapat Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya ini mengusung tema "Merawat Nilai Pengabdian: Menumbuhkan Sikap Bersyukur di Tengah Dinamika Kerja Publik". Langkah tersebut diambil sebagai respons atas kian kompleksnya tantangan penegakan demokrasi dan pelayanan publik di tingkat kota.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Bawaslu Kota Surabaya, Novli Bernado Thyssen, dan diikuti oleh seluruh Staf Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya. Kehadiran seluruh lini jajaran ini dimaksudkan untuk memperkuat soliditas internal serta menyamakan persepsi dalam menghadapi tahapan kerja ke depan. Melalui forum ini, penguatan karakter dan nilai-nilai kelembagaan dapat didiseminasikan secara langsung dan merata.

Ketua Bawaslu Kota Surabaya, Novli Bernado Thyssen, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan implementasi nyata dari Surat Edaran Ketua Bawaslu Nomor 15 Tahun 2026 tentang Jumat Sehati dan Jumpa Berlian. Kebijakan ini secara progresif mengintegrasikan aktivitas spiritual, seperti tausiyah dan siraman rohani, ke dalam program kerja rutin institusi. Menurutnya, aspek spiritual kini menjadi pilar penting dalam sistem pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Bawaslu.

Dalam arahannya, Novli berpesan agar seluruh jajaran staf senantiasa mensyukuri profesi dan pekerjaan yang diemban saat ini. Ia menekankan bahwa rasa syukur merupakan pondasi utama bagi setiap pegawai dalam menjaga integritas, profesionalitas, dan dedikasi di tengah padatnya dinamika kerja publik. "Pekerjaan sekarang ini harus disyukuri agar menjadi benteng moral yang kuat dalam menjalankan fungsi-fungsi kelembagaan," ujar Novli di hadapan peserta.

Ia menambahkan, rasa syukur bukanlah sekadar ungkapan lisan yang pasif, melainkan sebuah strategi psikologis aktif untuk membangun ketahanan (resilience) pegawai. Menumbuhkan mentalitas bersyukur terbukti mampu mengubah cara pandang individu terhadap tantangan berat di lapangan. Dengan pondasi spiritual yang kuat, hambatan kerja tidak lagi dilihat sebagai beban yang memicu kejenuhan (burnout), melainkan sebagai ruang pengabdian yang bermakna.

Selain persoalan mentalitas, poin utama yang menjadi sorotan dalam implementasi kebijakan ini adalah pentingnya menjaga harmonisasi ritme kerja (work rhythm). Dinamika pengawasan pemilu yang bergerak cepat sering kali memicu tingkat stres yang tinggi jika tidak diimbangi dengan pengelolaan energi yang baik. Oleh karena itu, aparatur yang jernih pikirannya adalah mereka yang mampu mengukur ritme, tahu kapan harus memacu akselerasi, dan tahu bagaimana menjaga konsistensi kerja.

Dampak nyata dari tertanamnya sikap bersyukur ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem komunikasi empatis di lingkungan internal Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya. Ketika ego individu diredam oleh rasa cukup dan apresiasi terhadap proses, interaksi antar pegawai akan bergeser ke arah yang lebih kualitatif. Hubungan kerja tidak lagi terasa kaku, melainkan berubah menjadi ruang diskusi yang sehat untuk memecahkan berbagai masalah secara kolektif demi kelancaran program kerja.

Melalui budaya kerja baru yang humanis ini, budaya saling menyalahkan saat terjadi kendala teknis di lapangan akan terkikis dan digantikan oleh sikap saling mendukung. Apresiasi terhadap sekecil apa pun kontribusi rekan sejawat kini menjadi kunci utama dalam menyukseskan agenda kelembagaan. Dengan penguatan pembinaan mental ini, seluruh jajaran Staf Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya diharapkan dapat terus bergerak bersama secara harmonis demi menghadirkan performa terbaik bagi demokrasi.

Penulis dan Foto: Debbie

Editor: Suib