Melawan Apatisme Politik: Bawaslu Kota Surabaya Gandeng Pemuda Muhammadiyah Edukasi Pemilih Muda lewat Podcast
|
Surabaya - Bawaslu Kota Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas edukasi politik masyarakat melalui siaran podcast di kanal YouTube resminya pada Kamis (13/8/2026). Diskusi interaktif yang disiarkan langsung dari studio Bawaslu Kota Surabaya ini mengangkat tema , yakni "Mengawal Suara Rakyat: Peran Organisasi Kepemudaan dalam Memperkuat Pengawasan Pemilu".
Pada edisi kali ini, Bawaslu Kota Surabaya menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Surabaya, Alfianur Rizal, sebagai narasumber utama. Diskusi yang berlangsung hangat dan visioner tersebut dipandu langsung oleh Anggota Bawaslu Kota Surabaya, Teguh Suasono Widodo, yang bertindak sebagai pemandu acara (host).
Mengawali diskusi, pembahasan dibuka dengan merefleksikan nilai sejarah keberanian pemuda Indonesia menjelang Proklamasi Kemerdekaan 1945, seperti aksi Sutan Sjahrir dan para pemuda yang mendesak terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Semangat pantang menyerah dan daya kritis pemuda masa lalu tersebut dinilai menjadi fondasi utama yang mengakselerasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, sekaligus menjadi cermin bagi pemuda masa kini dalam mengawal proses demokrasi.
Dalam konteks kepemiluan, pemuda dipandang sebagai elemen paling vital yang memberikan warna, dinamika, serta dampak positif bagi terciptanya demokrasi yang sehat. Mengutip pesan monumental Presiden Soekarno tentang dahsyatnya potensi 10 pemuda untuk mengguncang dunia, pemuda yang kritis diimbau untuk tidak sekadar memilih, melainkan wajib mempelajari gagasan, visi, serta rekam jejak pemikiran para calon pemimpin.
Menjawab pertanyaan pemantik mengenai maraknya fenomena apatisme politik dan stigma negatif di kalangan generasi muda, Alfianur Rizal menjelaskan bahwa anak muda memiliki cara pandang yang tidak kaku atau sekadar 'hitam-putih'. Menurutnya, potensi besar anak muda harus diarahkan melalui pendekatan nilai (value) yang inovatif, ramah gawai (gadget), serta mendukung minat dan hobi mereka agar pendidikan politik tidak terasa monoton.
Sebagai langkah konkret mengedukasi pemuda, PD Pemuda Muhammadiyah Surabaya telah menginisiasi program khusus berupa "Sekolah Kebangsaan" yang digagas bersama para Pemuda Negarawan. Melalui wadah ini, para kader dibekali pemahaman mendalam tentang bahaya politik pragmatis dan transaksional, sembari ditanamkan etika kebijakan serta iklim diskusi politik yang sehat.
Terkait proyeksi arah demokrasi lima hingga sepuluh tahun ke depan, Alfianur menegaskan pentingnya menjaga optimisme pemuda agar Indonesia terhindar dari kekosongan kepemimpinan (vacuum of power) yang berkualitas. Jika generasi muda bersikap apatis, konsekuensi logisnya adalah lahirnya pemimpin yang tidak responsif terhadap kesejahteraan rakyat karena proses pemilihannya tidak dikawal secara kritis.
Saat merespons wacana pembentukan partai politik khusus pemuda, Alfianur berpandangan secara subjektif bahwa hal tersebut belum diperlukan. Menurutnya, pemuda saat ini belum perlu terjun ke ranah politik praktis yang terlalu jauh, melainkan harus tetap konsisten menjaga idealisme dan independensinya untuk mengawal serta mengawasi hasil Pemilu secara murni.
Memasuki sesi pendalaman, ditegaskan bahwa partisipasi pemuda tidak boleh berhenti hanya sampai di bilik suara saat menggunakan hak pilih. Mengingat suara rakyat adalah amanah, generasi muda dituntut teliti dan berani ikut mengawasi agar suara masyarakat tidak dibeli melalui praktik transaksi politik, dimanipulasi, maupun disalahgunakan oleh pihak tertentu.
Di tengah pesatnya era digital dan media sosial, Pemuda Muhammadiyah menyoroti pentingnya peran organisasi kepemudaan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) terhadap ancaman hoaks dan ajaran kebencian. Pembelajaran berbasis panduan "Fiqih Media Sosial" diterapkan agar generasi muda terbiasa melakukan cross-check multi-sumber dan menerapkan budaya "saring sebelum sharing" sebelum membagikan informasi di dunia maya.
Guna menumbuhkan keberanian warga lokal dalam melaporkan pelanggaran seperti politik uang (money politics) tanpa rasa takut akan intimidasi, PD Muhammadiyah terus melakukan konsolidasi berbasis nilai-nilai amanah. Edukasi proses kepemiluan yang utuh diberikan agar masyarakat memahami batasan hukum dan mampu saling mengingatkan di tingkat akar rumput.
Di akhir sesi, Teguh Suasono Widodo mengajak para pemuda untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dengan terus menyuarakan kebenaran politik demi menjaga integritas demokrasi. Sementara itu, Alfianur menegaskan bahwa politik pada hakikatnya adalah jalan pengabdian jangka panjang untuk memberikan kemanfaatan nyata bagi masyarakat luas serta lingkungan sekitar.
Sebagai penutup siaran podcast, seluruh pihak sepakat menekankan pentingnya penguatan jaringan kolaborasi antarorganisasi kepemudaan dalam mengawal Pemilu secara kolektif. Diskusi ini diakhiri dengan pesan kunci yang kuat bagi seluruh generasi muda Indonesia: "Anak muda jangan jadi anak yang apatis, tetapi harus menjadi pemuda yang selalu optimis."
Penulis dan Foto: Debbie
Editor: Suib