Apel Pagi Bawaslu Kota Surabaya: Kepala Sekretariat Tekankan Semangat "Menolak Kalah" Hadapi Transformasi Digital
|
Surabaya - Suasana penuh semangat pembaharuan tampak menyelimuti halaman kantor Bawaslu Kota Surabaya pada Senin pagi (02/11/2026). Seluruh pegawai, mulai dari Kepala Subbagian hingga staf sekretariat, berkumpul mengikuti kegiatan apel rutin mingguan yang menjadi wadah konsolidasi kedisiplinan serta penguatan budaya kerja instansi. Apel yang sarat akan pesan strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya, Trimuda Ancas Wicaksono.
Di hadapan para pegawai yang hadir, Ancas mengawali amanatnya dengan menyoroti dinamika dunia kerja modern yang bergerak sangat cepat seiring laju modernisasi. Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dan sistem kerja kerap menghadirkan kecemasan tersendiri bagi sebagian kalangan di lingkungan kerja. Berbagai bentuk pembaruan sistem digital yang kompleks sering kali dipandang sebagai beban tambahan yang merepotkan rutinitas harian yang sudah berjalan.
Namun, di balik kekhawatiran tersebut, Ancas menegaskan bahwa bagi seorang pegawai yang memegang teguh prinsip "menolak kalah", gelombang perubahan ini sama sekali bukan ancaman untuk ditakuti. Sebaliknya, transformasi digital harus dilihat sebagai sebuah medan tantangan baru yang menarik untuk ditaklukkan demi mendongkrak kualitas diri sekaligus mengoptimalkan kinerja kelembagaan. Mentalitas inilah yang dinilai krusial agar lembaga pengawas pemilu senantiasa gesit dalam merespons berbagai tuntutan publik yang kian kompleks.
Lebih lanjut, Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Surabaya ini menjelaskan bahwa sikap adaptif terhadap digitalisasi harus dimulai dari keberanian seseorang untuk keluar dari zona nyaman. Alih-alih menghabiskan energi untuk mengeluhkan kerumitan sistem baru atau meratapi cara kerja lama yang sudah usang, mentalitas pantang menyerah akan mendorong pegawai untuk segera merangkul perubahan. Setiap algoritma baru, platform pelaporan mutakhir, hingga perangkat lunak otomatisasi hendaknya dipandang sebagai instrumen strategis untuk bekerja secara lebih cerdas.
Tidak hanya berhenti pada tahap menerima keadaan, Ancas juga menekankan pentingnya sikap proaktif dalam melakukan up-skilling atau peningkatan keterampilan sebagai pembeda utama. Inisiatif mandiri untuk mempelajari tools baru tanpa harus menunggu instruksi formal ataupun pelatihan resmi dari kantor merupakan cerminan tingkat kemandirian profesional yang tinggi. Waktu luang di sela-sela tugas harian dapat dimanfaatkan secara produktif untuk memperkaya literasi digital, memahami alur data, hingga mengeksplorasi efisiensi teknologi.
Ia menambahkan bahwa proses belajar mandiri yang konsisten ini tidak hanya berdampak positif pada percepatan penyelesaian tugas administratif, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri yang kokoh. Ketika seorang pegawai mampu menguasai teknologi baru secara autodidak, batasan-batasan teknis yang sebelumnya menghambat kinerja perlahan akan runtuh. Pekerjaan administratif yang dulunya menyita waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan jam saja.
Efisiensi waktu tersebut, menurut Ancas, secara otomatis akan membuka ruang yang lebih luas bagi lahirnya inovasi-inovasi kerja yang bersifat strategis. Transformasi peran individu di dalam tim pun akan terjadi secara alami, dari yang semula hanya bertindak sebagai pengikut arus sistem, pegawai tersebut bertransformasi menjadi problem solver yang diandalkan. Kehadiran figur-figur yang tangguh dan melek teknologi ini akan menjadikan mereka sebagai rujukan bagi rekan kerja lain yang menghadapi kendala serupa.
Di penghujung arahannya, Ancas merumuskan bahwa esensi dari "menolak kalah" di tengah perubahan teknologi adalah memastikan diri agar selalu relevan di era yang dinamis. Perkembangan teknologi mutakhir tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan nurani manusia, melainkan manusia yang adaptif dan proaktiflah yang akan terus memimpin perubahan. Konsistensi dalam mengasah keterampilan digital disebutnya sebagai bentuk investasi terbaik demi menjaga eksistensi institusi.
Pesan mendalam mengenai transformasi digital yang disampaikan Kepala Sekretariat diharapkan mampu memantik motivasi intrinsik seluruh pegawai untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan memberikan pelayanan yang profesional, akuntabel, serta berbasis teknologi sepanjang tahun 2026 ini.
Penulis dan Foto: Debbie
Editor: Suib