Lompat ke isi utama

Berita

Anggota Bawaslu Kota Surabaya Jadi Narasumber di LKMM-TD HIMASTAN UNESA

#

Anggota Bawaslu Kota Surabaya, Dimas Anggara saat menjadi narasumber pada kegiatan LKMM-TD HIMASTAN UNESA Sabtu (30/05/2026)

Surabaya - Guna mencetak calon pemimpin yang responsif dan tertib manajerial, Himpunan Mahasiswa Sarjana Terapan Administrasi Negara (HIMASTAN) Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD). Kegiatan yang mengusung tema "Foundations of Innovative Leadership for Future Generations" ini berlangsung di Ruang Auditorium K10, Kampus Fakultas Vokasi UNESA, pada Sabtu (30/05/2026).

Untuk membedah urgensi tata kelola organisasi yang profesional, pihak panitia menghadirkan Anggota Bawaslu Kota Surabaya, Dimas Anggara, sebagai salah satu narasumber. Dalam pemaparannya di hadapan puluhan fungsionaris organisasi mahasiswa, Dimas secara khusus mengupas tuntas materi mengenai "Administrasi Kesekretariatan dan Keuangan" sebagai dua pilar vital penggerak organisasi.

Dalam sesi awal materinya, Dimas menekankan bahwa administrasi kesekretariatan dan keuangan bertindak sebagai jangkar yang menjaga stabilitas seluruh pergerakan organisasi mahasiswa (ormawa). Menurutnya, kesekretariatan bukan sekadar urusan teknis mengetik surat, melainkan pusat kendali komunikasi dan dokumentasi internal maupun eksternal. Lewat pengelolaan surat-menyurat yang rapi, penyusunan proposal yang persuasif, hingga pengarsipan notulensi rapat, aspek ini memastikan seluruh legalitas dan rekam jejak digital maupun fisik organisasi tetap terjaga dengan baik.

Dimas memperingatkan bahwa tanpa adanya tata kelola kesekretariatan yang tertib, sebuah organisasi akan mudah kehilangan arah dalam menjalankan roda kepengurusan. Risiko nyata yang sering dihadapi ormawa jika abai terhadap administrasi adalah munculnya kendala birokrasi dengan pihak institusi kampus. Selain itu, buruknya pengarsipan akan mempersulit proses transfer pengetahuan dan estafet nilai-nilai kepengurusan saat terjadi pergantian generasi kepemimpinan.

Berpindah pada aspek finansial, Dimas menjelaskan bahwa administrasi keuangan yang dikomandoi oleh bendahara merupakan bahan bakar utama agar seluruh program kerja dapat terealisasi secara konkret. Pengelolaan keuangan dalam lingkup mahasiswa menuntut kedisiplinan tingkat tinggi melalui penerapan prinsip transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas. Tugas bendahara dimulai dari menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang realistis, mengawasi arus kas masuk dan keluar secara harian, hingga memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan memiliki bukti kuitansi yang sah.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa manajemen keuangan yang sehat tidak hanya berfungsi untuk menghindarkan organisasi dari ancaman krisis dana di tengah jalan. Keberhasilan bendahara dalam menyusun pelaporan yang akuntabel secara tidak langsung ikut membangun kredibilitas dan kepercayaan dari pihak birokrasi kampus, sponsor, maupun anggota organisasi itu sendiri. Kunci dari kekuatan tata kelola ini terletak pada sinergi erat antara sekretaris dan bendahara, terutama saat memasuki fase krusial penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) di akhir program kerja.

Menariknya, Anggota Bawaslu Kota Surabaya ini mengajak para peserta untuk melihat tata kelola ormawa dari kacamata yang lebih luas, yakni sebagai investasi karier jangka panjang. Pengalaman praktis dalam mengelola kesekretariatan dan keuangan dipandang sebagai laboratorium kepemimpinan yang menyediakan simulasi nyata sebelum mahasiswa terjun ke dunia kerja. Kemampuan teknis (hard skills) seperti ketelitian sekretaris dalam mengarsip dokumen merupakan cikal bakal dari keahlian project management, sementara kedisiplinan bendahara mengelola kas setara dengan dasar analisis finansial dan manajemen risiko di sektor korporasi maupun instansi pemerintahan.

Sebagai penutup, Dimas menegaskan bahwa dinamika rumit di dalam organisasi sesungguhnya sangat ampuh dalam membentuk karakter serta soft skills yang dicari oleh para perekrut kerja, seperti kemampuan pemecahan masalah (problem solving), komunikasi strategis, dan ketahanan mental di bawah tekanan. Melalui portofolio keberhasilan mengelola program kerja yang akuntabel dan tertib administrasi, seorang lulusan baru (fresh graduate) akan memiliki nilai jual lebih di mata industri. Pengalaman empiris ini menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa tersebut tidak hanya unggul secara teoritis di dalam kelas, melainkan telah teruji secara praktis dalam menggerakkan roda organisasi secara profesional.

Penulis dan Foto: Debbie

Editor: Suib