Resapi Makna Pengabdian, Kasubbag PPPSH Bawaslu Kota Surabaya Ajak Pegawai Maknai Lelah Sebagai Berkah
|
Surabaya - Suasana khidmat menyelimuti halaman kantor Bawaslu Kota Surabaya pada Senin pagi (21/9/2026). Rutinitas awal pekan tersebut diawali dengan pelaksanaan apel pagi yang diikuti oleh seluruh jajaran, mulai dari Kepala Sekretariat, para Kepala Subbagian, Staf Sekretariat, hingga para mahasiswa magang yang tengah menimba ilmu di lingkungan Bawaslu Kota Surabaya.
Bertindak sebagai pembina apel pada kesempatan tersebut adalah Kepala Subbagian Penanganan Pelanggaran, Penyelesaian Sengketa Proses Pemilu, dan Hukum (PPPSH) Bawaslu Kota Surabaya, Aria Pratomi Adi Saputra. Dalam amanatnya, Aria menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya meresapi makna pengabdian dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaan. Di tengah padatnya dinamika dan beban kerja pengawasan di kota metropolitan sebesar Surabaya, ia mengajak seluruh pegawai untuk tidak melihat rasa lelah sebagai beban, melainkan membingkainya kembali sebagai sebuah akumulasi keberkahan.
Aria mengungkapkan bahwa bekerja di instansi pemerintah seperti Bawaslu Kota Surabaya kerap kali dihadapkan pada alur birokrasi yang kompleks, tenggat waktu yang ketat, serta tuntutan pelayanan publik yang tiada henti. Kondisi tersebut tidak jarang menguras energi fisik maupun pikiran para staf dan pejabat di lingkungan sekretariat. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap tetes keringat dan waktu yang dicurahkan memiliki nilai yang jauh lebih besar jika disandarkan pada niat yang tulus.
Menurut Aria, kunci utama untuk mengubah rasa lelah menjadi berkah terletak pada reorientasi niat dan pemaknaan tugas harian. Setiap berkas yang diperiksa, laporan yang disusun, hingga pengawasan yang dijalankan pada hakikatnya adalah bentuk pengawalan terhadap nilai-nilai demokrasi dan keadilan bagi masyarakat. Ketika pekerjaan dipandang sebagai sarana ibadah dan pengabdian kepada bangsa, seluruh rasa letih yang dirasakan akan bertransformasi menjadi nilai kebaikan yang bernilai pahala.
Lebih lanjut, Aria menekankan bahwa dinamika dan tantangan yang kerap memicu rasa lelah di Bawaslu Kota Surabaya sejatinya merupakan sarana penempaan kapasitas diri. Berbagai tekanan serta perubahan regulasi yang cepat melatih ketahanan mental, kesabaran, dan profesionalisme setiap insan di dalamnya. Lelah yang hadir saat melewati masa-masa sulit adalah bukti nyata bahwa kualitas dan kematangan diri para pegawai sedang bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Di samping pemaknaan niat, integritas juga menjadi sorotan utama dalam amanat apel pagi tersebut. Aria menegaskan bahwa kejujuran dan komitmen pada aturan adalah fondasi mutlak agar setiap lelah yang dicurahkan tetap bernilai suci. Dengan menjalankan tugas secara adil dan transparan, seluruh penghasilan dan hasil kerja yang diperoleh dipastikan membawa kedamaian serta keberkahan, baik bagi pribadi pegawai maupun keluarga di rumah.
Dampak nyata dari pengabdian yang penuh rasa ikhlas ini juga berpulang langsung kepada masyarakat Kota Surabaya. Aria mengingatkan bahwa kerja keras yang dilakukan jajaran sekretariat Bawaslu Kota Surabaya turut memastikan hak-hak politik warga terlayani dengan baik dan keadilan pemilu tetap terjaga. Menyadari bahwa tugas harian menjadi perantara kemudahan dan keadilan bagi banyak orang adalah penawar alami untuk mengobati rasa letih setelah seharian bertugas.
Meski menuntut dedikasi tinggi, Aria juga berpesan agar seluruh pegawai tetap bijak dalam mengelola energi dan kesehatan diri. Pengabdian yang tulus harus diimbangi dengan menjaga keseimbangan antara fokus bekerja pada jam kantor dan pemulihan fisik serta waktu berkumpul bersama keluarga di luar jam kerja. Komunikasi yang harmonis dan saling mendukung antar rekan kerja juga menjadi fondasi penting agar iklim kerja di Bawaslu Kota Surabaya tetap kondusif dan menyenangkan.
Mengakhiri amanatnya, Aria berharap agar semangat pengabdian ini terus terjaga dan melekat dalam setiap langkah kerja jajaran Bawaslu Kota Surabaya sepanjang pekan berjalan. Lelah dalam menjalankan tugas pengawasan demokrasi adalah hal yang manusiawi, namun ketika dibungkus dengan keikhlasan dan integritas yang kokoh, rasa letih tersebut tidak akan pernah terbuang sia-sia, melainkan terakumulasi menjadi berkah dan tabungan kebaikan yang abadi.
Penulis dan Foto: Debbie
Editor: Suib